Bubur Muhdlor Kembali Semarakan Ngabuburit diKota Tuban

oleh
iklan

TUBAN – Kudapan bubur muhdhor kembali semarakan ngabuburit di Kota Tuban. Bubur beraroma gulai kambing dan rempah khas Timur Tengah itu bisa didapatkan secara cuma-cuma selama Ramadan. Santapan takjil khas Tuban ini dapat dinikmati di Masjid Al-Muhdhor, Kota Tuban.

Menurut  takmir  Masjid Al-Muhdhor, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban, Habib Agil Bunumey, bubur mudhor merupakan hidangan istimewa yang dinanti-nanti warga di sekitar Masjid Al-Mudhor. Setiap Ramadan tiba, penduduk yang tinggal di sekitar perkampungan Arab tersebut rela antre untuk memperoleh bubur berwarna cokelat kekuningan itu.

“Sebelum penjajahan Belanda sudah ada bubur muhdhor ini. Kemudian diteruskan sebagai tradisi hingga sekarang,” cerita Habib Agil, Jumat (24/03).

Ia menambahkan, bubur muhdhor tersebut terbuat dari beras, bumbu rempah gulai, santan, dan kambing. Uniknya, sajian bubur ini dimasak bersama para warga keturunan Arab di Masjid Al-Muhdhor di Jalan Pemuda.

“Penyajiannya dari bumbu-bumbu yang khas, di antaranya bumbu rempah-rempahnya yang kuat khas Timur Tengah, 15 kilogram daging kambing, beras buburnya rata-rata setiap hari 30 kilogram,’’ sebutnya, seraya menambahkan jika sudah dimasak akan menjadi 500 porsi, kemudian dibagikan kepada jemaah masjid serta warga sekitar.

Agil menjelaskan, bubur mudhor dimasak dengan cara tradisional di dandang besar yang terbuat dari kuningan, bergaris tengah satu meter dengan tinggi sekitar 1,3 meter. Selama dimasak, bahan-bahan bubur terus diaduk oleh pengurus Masjid Al-Muhdhor secara bergantian. Pengurus masjid biasanya mulai memasak bubur setelah zuhur dan selesai saat asar.

Masih dari cerita Habib Agil, dulu awal mulanya masyarakat setor bahan bakunya ke masjid. Ada yang setor kelapa, beras, daging kambing, kayu bakar dan lainnya secara spontan.

“Akhirnya lama-lama ditanggung pembiayaannya oleh satu keluarga dan pembuatannya ditanggung oleh jemaah dan takmir masjid di sini,” kata Habib yang juga imam masjid setempat.

Zaman dulu, lanjut Habib Agil, bubur tersebut dibagi-bagikan ke rumah warga mulai dari tahun 40-an hingga 60-an.

“Saya waktu masih kecil juga ikut ngantar ke rumah-rumah warga langsung. Tapi sekarang sudah berganti warga yang datang ke masjid,” ceritanya.(bam/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *