Gus Menteri dan Demokrasi Haji 2023 M/1444 H

oleh
iklan

Oleh : Prof. Dr. H. Syahabuddin, M.Ag (Rektor IAIN Bone)

Indonesia, negara yang menjadi rumah bagi sekitar 231 juta umat Islam berdasarkan World Population Review 2021, telah menampilkan panorama unik demokrasi melalui penyelenggaraan ibadah haji pada tahun 2023 M/1444 H.

Implementasi Konsep Haji Ramah Lansia, peningkatan kuota haji pada tahun 2023 menjadi 221.000, penambahan liter Air Zam-Zam bagi jemaah haji Indonesia dan petugas menjadi 10 liter, serta keterwakilan perempuan dalam delegasi Tim Amirul Haj Indonesia 1444 H, adalah wujud transformasi kebijakan progresif yang memberikan wajah baru dan menjadi suksesor terhadap pelaksanaan Ibadah haji.

Hal ini sesuai dengan jurnal yang bertajuk“Estimating the Impact of the Hajj: Religion and Tolerance in Islam’s Global Gathering” yang ditulis oleh Asim Ijaz Khwaja (Guru Besar Harvard University), David Clingingsmith, dan Michael Kremer dari Case Western Reserve University pada tahun 2009. Dalam tulisan yang dapat diunduh di Harvard University’s DASH repository disebutkan bahwa pelaksanaan haji melegitimasi keyakinan dalam keseteraan dan harmoni kepada semua golongan tanpa ada sekte dan perbedaan, yang mengarah pada kemajuan yang lebih positif.

Strategi Perang Badar adalah salah satu contoh terbaik dalam sejarah Islam tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW, melalui hikmah dan perencanaan strategis, berhasil memimpin sekelompok kecil pasukan Muslim meraih kemenangan melawan pasukan Quraisy Makkah yang lebih besar. Yang menarik adalah relevansi strategi perang Badar ini sejalan dengan kebijakan dan kebijaksanaan Gus Menteri Agama RI H Yaqut Cholil Qoumas dalam menerapkan Perencanaan dan Persiapan Meticulous (pendekatan yang sangat teliti dan cermat).

Douglas Elmendorf, seorang Professor dari Harvard University dalam remarksnya 2018, mengatakan bahwa The Fundamentals of Good Leadership terdiri atas lima aspek penting, yakni: pemimpin yang menempatkan nilai tinggi pada kebenaran, menghargai individu tanpa memandang status sosial dan karakteristik lainnya, terbuka terhadap pandangan yang berbeda, memberikan kinerja yang sangat baik, serta pemimpin yang memiliki empati yang kuat dan sikap peduli terhadap orang lain.

Pandangan ini sejalan dengan pesan yang tersirat dalam lima ayat Al-Qur’an berikut:

Pertama, QS An-Nisa [4]: 58.
” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Kedua, QS Sad [38]: 26.
“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”

Ketiga,QS Asy-Syura [42]: 38.
” (juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Keempat, QS An-Nisa [4]: 135.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”

Kelima, QS Ali ‘Imran [3]: 159.
” Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Mari kita mengawali setiap langkah dengan pikiran positif, sama seperti mengenakan pakaian ihram yang menandai awal dari rangkaian pelaksanaan ibadah haji. Mari kita menyingkirkan perasaan dengki, sama seperti berwukuf dalam ketenangan dan refleksi di Padang Arafah. Mari kita merawat rasa empati dan simpati, sama seperti melakukan sa’i antara Safa dan Marwah, simbol dari usaha dan perjuangan kita.

Mari kita menyingkirkan kesombongan, sama seperti menahlilkan atau mencukur rambut kita dalam upaya merendahkan diri dan menghapus identitas dunia kita. Dan akhirnya, mari kita selalu menjunjung tinggi kedisiplinan, sama seperti menertibkan diri kita selama ibadah haji dengan rasa hormat dan dedikasi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Pewarta : Redaksi Istana

Gambar Gravatar
Deskripsi tentang penulis berita di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *