Kepanduan Mangkunegaran

oleh
Foto Kegiatan Kepanduan Sekitar Tahun 1920
iklan

Tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Indonesia. Pelopor gerakan kepanduan di Indonesia diawali dengan berdirinya Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) kemudian berubah menjadi Nederlands Indische Padvinders. Pada 1916, KGPAA Mangkunegara VII membuat organisasi kepanduan tanpa campur tangan dari Belanda. Organisasi itu diberi nama Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) atau Perkumpulan Kepanduan Jawa dan merupakan organisasi kepanduan yang pertama di nusantara. Lahirnya Kepanduan Jawa menjadi penyemangat berdirinya organisasi kepanduan lain pada saat itu.

Didekatinya anak-anak muda Mangkunegaran berawal dari kegelisahan Mangkunegara VII ketika diminta pemerintah Belanda melalui Nederlands Indische Padvinders Vereeniging atau Persatuan Pandu Hindia Belanda agar memerintahkan rakyatnya menjadi anggota. NIPV lahir pada tanggal 4 September 1914 dengan menjaring anggota anak-anak muda bangsa Eropa, Indo, dan pribumi dituntut setia terhadap Ratu Belanda dan pemerintah Belanda.

Permintaan NIPV itu berpeluang mengikis kekuasaan dan kewibawaan raja di mata rakyatnya, tidak terkecuali anak-anak muda generasi penerus bangsa. Kaya pengalaman mengenyam pendidikan di Belanda, membuat Mangkunegara VII memahami betul bahwa gerakan kepanduan pertama kali dicetuskan oleh Lord Baden Powell pada tahun 1907. Kepanduan berkeyakinan bahwa kemajuan suatu negara tidak tergantung pada kekuatan militer dan peralatan modern, tetapi juga karakter pasukan yang terlatih dan disiapkan.

Melalui NIPV, anak-anak kurang mencintai budaya Jawa, mengidolakan Ratu Belanda dan loyal pada pemerintah Belanda. Hal ini terus membayangi pikiran Mangkunegara VII. Sebelum menjadi kenyataan, harus ada tindakan nyata. Dalam situasi pelik inilah, anak-anak remaja Mangkunegaran diorganisir ke dalam Kepanduan Mangkunegaran. Pada dasarnya, ini dilakukan untuk mengimbangi dominasi politik kolonial Belanda yang kian menguat di wilayah Vorstenlanden, termasuk di Mangkunegaran sehingga dibutuhkan kekuatan politik baru yang dikoordinir dalam organisasi yang merangkul seluruh elemen. Kepanduan Mangkunegaran merupakan organisasi kepanduan pertama di Indonesia yang dikelola secara formal mengikuti sistem organisasi kepanduan modern.

Merunut pada statuta organisasi Kepanduan Mangkunegaran, dipisahkan kelompok anak berusia 8-12 tahun sebagai anggota pandu anak-anak (welp), umur 12-17 tahun menjadi anggota pandu pengenal medan (verkenner) dan usia 17 ke atas anggota pandu utama (voortrekker). Kemudian, pandu puteri berumur 8-11 tahun sebagai anggota pandu kurcaci (kabouter), usia 11-18 tahun anggota pandu puteri (padvindster), dan usia 18 tahun ke atas menjadi anggota pandu perintis (pionierster). Organisasi ini bermarkas di barat istana Mangkunegaran (depan Monumen Pers Nasional), sekarang dipakai untuk kantor Pramuka Kwartir Cabang Kota Surakarta.

Dalam menggembleng pandu putra di Kepanduan Mangkunegaran berbagai kegiatan dilakukan, antara lain; berkemah ke Partinituin dan Wonogiri demi meningkatkan kecintaan terhadap alam, terampil dan mandiri tanpa bergantung pada orang tua. Mencintai warisan nenek moyang ditempuh melalui kunjungan ke Candi Prambanan. Bahkan, kepedulian Mangkunegaran terhadap rakyatnya terlihat pada pemberian beasiswa pendidikan bagi para pandu yang kurang mampu belajar di sekolah guru (Normaalschool) dan sekolah tukang (Ambachtsschool).

Bagi pandu puteri, kegiatan aksi di alam terbuka dan olah raga lebih sedikit dibanding pandu putera. Sebagai gantinya, anak perempuan dilatih dalam kegiatan keputrian. Misalnya, berlatih musik, menari, menjahit, memasak, menyulam dan membatik. Dengan berbagai ketrampilan itu diharapkan agar pandu puteri kelak siap menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab  bagi keluarga dan masyarakat.

Kegiatan anak-anak remaja ini memadukan aspek kekompakan dan kedisiplinan. Dengan kedua aspek itu, mereka ingin menjadi yang terbaik karena di waktu tertentu ditunjuk turut tampil memeriahkan acara resmi Mangkunegaran, seperti Jumenengan Dalem. Kelincahan anggota Kepanduan Mangkunegaran membuat siapa pun takjub. Setiap hari Minggu kepanduan ini berkumpul di halaman depan istana Mangkunegaran untuk berlatih baris-berbaris, tali-temali, membaca peta, dan pertolongan pertama.

Kemunculan Kepanduan Mangkunegaran telah membuat Muhammadiyah dan Budi Utomo terkesan. Kedua organisasi besar ini mengirim utusan ke Mangkunegaran untuk mempelajari cara mengelola kepanduan. Sepulang dari Solo, di Yogjakarta didirikan Padvinder Muhammadiyah pada 1918, yang dua tahun kemudian berganti nama menjadi Hizbul Wathan. Sementara Budi Utomo pada tahun 1921 membentuk Jong Java Padvinderij.

Ketertarikan Muhammadiyah dan Budi Utomo pada Kepanduan Mangkunegaran karena di dalam organisasi ini telah mempunyai anggaran dasar dimana anak-anak remaja diajarkan tentang: keutamaan budi pekerti, olah pikir, kesehatan, mencintai sesama, dan tolong-menolong.

Meskipun ditempa dengan berbagai ketrampilan dan dilatih baris-berbaris, anak-anak ini tetap memperoleh porsi bermain lebih dari cukup. Sesuai dengan tujuan kepanduan yakni mengajarkan anak-anak dengan cara membangun karakter dan kekuatan fisik melalui permainan. Permainan ini untuk mengasah panca indra, menguatkan fisik, dan membentuk karakter anak. Anak-anak di Kepanduan Mangkunegaran diarahkan untuk bermain, bergembira, dan tidak mudah merendahkan orang lain.

Sumber : Puro Mangkunegaran

Pewarta : Mas Raden

Gambar Gravatar
Tulis Deskripsi tentang anda disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *