Metode Baca Al-Qur’an Baghdadi

oleh
Foto Mahrus eL-Mawa (alumni jurusan Tafsir Hadits IAIN Sunan Kalijaga, nyantri di pesantren Al-Munawir Krapyak dan Salafiyah Pemalang, Kasubdit Pendidikan Al-Qur’an)
iklan

Oleh : Mahrus eL-Mawa (alumni jurusan Tafsir Hadits IAIN Sunan Kalijaga, nyantri di pesantren Al-Munawir Krapyak dan Salafiyah Pemalang, Kasubdit Pendidikan Al-Qur’an)

Baghdadi dianggap sebagai sebagai metode baca Al-Qur’an tertua di dunia. Meski demikian, siapa yang membawa pertama kali ke nusantara, belum ada literatur yang menyebut secara pasti. Sebagian berpendapat bahwa metode ini disusun Abu Mansyur Hifdzul Fikri Al-Baghdadi pada 376 H atau kisaran 1009 M, atau Abu Mansur Abdul Qadir Baghdadi.

Sebagian lagi menyebut Imam al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H). Namun, sumber berita ini juga tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya karena dalam daftar nama-nama karya tulis Imam al-Khatib al-Baghdadi tidak terdapat nama metode ini.

Di Indonesia, sebutan nama metode ini juga berbeda-beda. Berdasarkan ulasan Abdul Rasyid dan Muhammad Ulin Nuha dalam buku Ensiklopedia Metode Baca Al-Qur’an di Indonesia (2022) dijelaskan bahwa masyarakat Jawa menyebutnya, turutan, berarti “sesuatu yang diturut atau dicontoh,” atau “sesuai yang dibaca secara berurutan.”

Di tanah Melayu, metode ini dikenal dengan istilah Mengkadam/Menghadam/Muqodam, berarti “pendahuluan” atau “sesuatu yang dikerjakan diawal.” Disebut demikian, karena pembelajarannya menjadi semacam pendahuluan, sebelum masuk pada pelajaran berikutnya dalam membaca Al-Qur’an.

Selain kedua nama tersebut, masih di tengah masyarakat Jawa dan Sumatera, dikenal pula nama Alif-alifan. Istilah ini dinisbatkan kepada huruf pertama hijaiyah yaitu Alif. Sebutan paling masyhur dari nama-nama tersebut dengan nama Kaidah Baghdadiyah, nisbat kepada ibukota kekhalifahan Bani Abbasiyah, yaitu kota Baghdad.

Metode Baghdadi disusun dalam satu buku ajar, dengan 17 materi pembelajaran Al-Qur’an. Materi dikemas dari tingkat dasar hingga pelajaran membaca satu rangkaian huruf panjang. Ciri khas metode Baghdadi ada pada materi pengenalan huruf hijaiyyah, dimulai dari alif, ba, ta, dan seterusnya. Ciri lainnya pada pengenalan huruf hijaiyyah yang berharakat fathah, kasrah, dan dhammah dengan cara di eja satu persatu. Selain itu, terdapat lembaran juz 30 sebagai sarana Latihan membaca Al-Qur’an sebelum masuk ke Al-Qur’an besar (lengkap).

Sistem pembelajarannya dengan tahajji atau sistem eja. Sistem eja yang ini menjadi induk dari seluruh metode BTQ di Indonesia yang menerapkan sistem eja pada proses pembelajaran Al-Qur’an di kemudian hari.

Metode Baghdadi ini tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi tersebar luas di seluruh penjuru dunia. Secara khusus, tercatat sebagai metode pembelajaran Al-Qur’an yang paling banyak digunakan di Indonesia dan negara sekitarnya seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan India. Bahkan, negara-negara Timur Tengah, seperti Mesir dan Irak juga memakai metode ini sebagai metode pembelajaran baca Al-Qur’an tingkat dasar.(den/red)

Pewarta : Mas Raden

Gambar Gravatar
Tulis Deskripsi tentang anda disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *