Siapkan Kader di Masa Depan, PP GMKI Bahas Stimulus Baru Pendidikan Kader Lewat Simposium

oleh
iklan

Jakarta– Pengurus Pusat GMKI Masa Bakti 2022-2024 menggelar Simposium Pendidikan Kader dengan mengangkat Tema *”Stimulus Baru Pendidikan Kader Organisasi Mahasiswa di Era Revolusi Industri 5.0”* dengan mengahadirkan pemateri diantaranya, Rahayu Saraswati sebagai Co-Choir Y20 Indonesia 2022 yang juga Ketua Umum TIDAR, Tigor Tampubolon Praktisi Pendidikan yang juga Direktur Operasional Prosus Inten Jawa Barat, Harsen Roy Tampomuri sebagai Akademisi Ilmu Politik Universitas Bung Karno sekaligus Founder Pemersatu Fondation, dan Theo Litaay Staf Ahli Utama Kantor Kepresidenan yang diwakili Roberto Duma Buladja Ketua Bidang PKK PP GMKI Masa Bakti 2020-2022.

Diskusi dimulai dengan Opening Speach oleh Kabid PKK PP GMKI  Wulan Rygyar Nainggolan, dilanjutkan pemaparan materi dan diskusi berlangsung dengan diarahakan oleh Moderator Eduard Nautu sebagai Sekfung Pendidikan Kader PP GMKI. Simposium Pendidikan Kader ini dilaksanakan di Gedung Pemuda Provinsi DKI Jakarta pada Sabtu, (15/4/2023).

Rahayu Saraswati sebagai narasumber utama dalam materinya menyampaikan bahwa GMKI dalam pembinaan kader harus melihat perkembangan zaman  yang begitu serba gadget dimana mahasiswa saat ini adalah Gen-Z.

“GMKI harus mampu melihat pola perilaku gen Z dimana mahasiswa sekarang sudah didominasi oleh eranya Gen-Z. Apakah GMKI masih dengan konsep hari ini masih mampu menarik mahasiswa Kristen untuk bergabung dengan organisasi ini”, ucap Saraswati.

Saraswati, sapaan akrab Rahayu Saraswati Djojohadikusumo ini juga menyampaikan agar GMKI membuat standar dalam Sistem Pendidikan Kader dan penguatan pemahaman visi dan misi GMKI bagi seluruh kader.

“Pengurus Organisasi harus bisa memahami visi dan misi organisasi, contohnya pendidikan kadernya harus dibuat standar yang dipatok. Standar inilah nantinya yang di copy paste ke seluruh daerah/cabang GMKI, misalnya untuk menjadi Pengurus, seorang kader selesai di level satu sampai seterusnya, ini salah satu yang harus menjadi standarisasi, jadi jelas Sistem Pendidikan Kadernya”, tambahnya

Direktur Operasional Prosus Inten Jabar, Tigor Tampubolon yang juga didaulat sebagai narasumber menyampaikan bahwa filosofi Pendidikan bisa membuat seseorang bukan hanya cerdas secara intelektual namun cerdas secara emosional.

“Filosofi Pendidikan yang lebih menekankan pada Tut Wuri Handayani, padahal ada tiga aspek penting dari Pendidikan yaitu Tut Wuri handayani, Ing Madya Mangun Karso, Ing Ngarso Sung Tuludo, ketiga aspek ini bukan hanya membentuk kecerdasan namun karakter juga ikut terbentuk, sebagai kader Kristen kita tidak boleh menjadi rapuh dan egois. GMKI hari ini dari kacamata mengalami kondisi rapuh dan egois, bisa dilihat dari kondisi GMKI hari ini dan bukan hanya GMKI tetapi di lembaga keumatan Kristen yang lain juga”, pungkasnya.

Tigor menambahkan jika GMKI tidak mau berubah dan tidak bergerak cepat, maka cepat atau lambat GMKI bak raksasa yang lumpuh dan mati.

“Hari ini jika kita mau berubah, kita harus bergerak dan cepat untuk membuat sesuatu yang baru terkait kebijakan pengaderan agar kemudian GMKI selamat, kalau tidak GMKI akan jadi raksasa yang lumpuh dan raksasa yang mati”, tambahnya.

Senada dengan Saraswati, Akademisi Ilmu Politik Harsen Roy Tampomuri dalam pemaparannya juga menekankan agar GMKI harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, ia juga berharap GMKI sebagai organisasi Kristen dalam perjalanannya agar GMKI menghidupi nilai Kristen dan GMKI harus lebih kekinian sehingga dapat menjawab perkembangan zaman dan kebutuhan kader.

“Stimulus seperti apa yang coba untuk dikejar, pertanyaannya apakah masih relevan hingga saat ini khususnya di era revolusi industri 5.0. Generasi Z hari ini tidak perlu diajarkan mengenai digitalisasi karena mereka hidup didalamnya, yang penting kita bisa berkaca berdasarkan data dan fakta untuk menemukan suatu relevansi pada Pendidikan kader yang kekinian”, imbuhnya.

Roberto duma Buladja sebagai narasumber akhir dalam Simposium ini menekankan bahwa perdebatan mengenai pendidikan Kader bukan hanya terjadi pada hari ini. Ia pun mengajak agar Pengurus di GMKI dapat berkreasi dalam melaksanakan metode Sistem Pendidikan Kader, seperti menghasilkan konten-konten Pendidikan Kader dengan Nilai Kekinian dan ada standar yang ditetapkan oleh PP GMKI.

“Intervensi Pendidikan kader ke cabang-cabang harus dilakukan untuk standarisasi Pendidikan kader oleh PP GMKI serta mengaktifkan Kembali Yayasan Bina Dharma, kita harus memperkuat institusi, menjalankan doktrinisasi dijalankan, sehingga kaderisasi dapat berjalan dengan baik”, tutupnya.(wln/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *