Istana Kutai Kartanegara

oleh
iklan

Istana Kutai Kartanegara terletak di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Bangunan istana didominasi oleh beton mulai dari ruang bawah tanah, lantai, dinding, penyekat ruangan hingga atap bangunan. Bangunan yang memiliki gaya arsitektur Indische Empire” ini merupakan suatu komplek yang terdiri dari beberapa bangunan yaitu Istana, makam raja-raja, pendopo, Masjid Jami’ Aji Amir Hasauddin, dan kantor UPTD Museum Mulawarman. Kompleks Istana Kutai Kartanegara menempati lahan seluas 35.000 m2 yang dikelilingi oleh pagar beton. Bangunan-bangunan di komplek Istana Kutai Kartanegara ini masih berdiri kokoh, namun pada bangunan makam raja-raja Kutai terdapat beberapa kerusakan di bagian atap (kondisi tahun 2015).

Kompleks Istana Kutai Kartanegara telah dilakukan beberapa kegiatan yaitu, registrasi Cagar Budaya tahun 2010, Revitalisasi tahun 2012, ekskavasi dermaga dalam rangka pelebaran akses jalan  tahun 2014, Orientasi lapangan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia di Tenggarong tahun 2015 (Februari), Pendataan Rencana Pemugaran tahun 2015 (Juni), dan Studi Kelayakan Pemugaran tahun 2015 (Oktober).

Bangunan Istana Kutai Kartanegara didominasi oleh bahan beton dan didirikan pada tahun 1932 oleh pemerintah Belanda, selanjutnya Belanda menyerahkan istana kepada Sultan Aji Muhammad Parikesit pada tahun 1935. Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis di atas Yupa (tugu batu) yang ditulis dalam Bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan barasal dari abad ke-4 M. Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kundungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini berlokasi di seberang Kota Muara Kaman. Pada awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325) (Anonim, 2015). Kerajaan Kutai dalam perjalanannya mengalami beberapa perubahan nama kerajaan yaitu; abad V bernama Kutai Martapura, abad XIV bernama Kutai Kartanegara, abad XVII bernama Kutai Kartanegara ing Martapura, dan abad XX bernama Kabupaten Daerah Tingkat II Kutai (Adham, 1981). Pada masa pemerintahan Aji Imbut yang bergelar Sultan Aji Muahammad Muslihuddin ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara dipindahkan ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti ‘rumah raja’, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini (Anonim, 2015).

Berikut adalah masa pemerintahan raja-raja Kutai Kartanegara menurut urutan tahun dari Drs. H. Ahmad Dahlan;

No Nama Raja Masa Jabatan
1. Aji Batara Agung Dewa Sakti 1380-1410
2. Aji Batara Agung Paduka Nira 1410-1450
3. Maharaja Sultan 1450-1474
4. Raja Mandarsyah 1474-1525
5. Pangeran Tumenggung Baya-Baya 1525-1575
6. Raja Mahkota 1575-1610
7. Aji Di Langgar 1610-1635
8. Pangeran Sinum Panji Mendapa Ing Martapura 1635-1650
9. Pangeran Dipati Agung Ing Martapura 1650-1665
10. Pangeran Adipati Maja Kusuma Ing Martapura 1665-1701
11. Aji Ragi Gelar Ratu Agung 1701-1715
12. Pangeran Dipati Tua Ing Martapura 1715-1745
13. Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martapura 1745-1755
14. Sultan Aji Muhammad Idris 1755-1778
15. Sultan Aji Muhammad Aliyeddin 1778-1780
16. Sultan Aji Muhammad Muslihuddin 1780-1816
17. Sultan Aji Muhammad Salehuddin 1816-1845
18. Dewan Perwalian 1845-1850
19. Sultan Aji Muhammad Sulaiman 1850-1899
20. Sultan Aji Muhammad Alimuddin 1899-1910
21. Pangeran Mangku Negoro/Dewan Perwalian 1910-1920
22. Sultan Aji Muhammad Parikesit 1920-1960
23. Kabupaten Daerah Tingkat II Kutai 1960-2001
24 H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II 2001- sekarang

Bangunan istana tersebut saat ini difungsikan sebagai museum yaitu Museum Mulawarman. Di dalam museum tersebut menyimpan benda-benda tinggalan yang pernah digunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara diantaranya; singgasana sultan, perhiasan, meriam, arca, dan lain-lain.(Adham, 1981)

Sumber :kebudayaan.kemdikbud.go.id

iklan

Pewarta : Mas Raden

Gambar Gravatar
Tulis Deskripsi tentang anda disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *